Kamis, 24 November 2016

“Produksi Daging, Susu dan Wol”



MAKALAH PRODUKSI KAMBING DAN DOMBA
“Produksi Daging, Susu dan Wol”


logo baru


Oleh:

L A  R A B I A

L1A1 13 141










JURUSAN PETERNAKAN
 FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2015
KATA PENGANTAR
            Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan nikmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktu yang telah ditentukan. Makalah ini disusun sebagai syarat untuk penambahan nilai dalam Mata Kuliah Produksi Kambing dan Domba.
            Makalah ini membahas tentang Produksi daging, susu, dan wol pada kambing domba. Olehnya itu sangat penting penulis menyusun makalah ini sebagai acuan dalam belajar produksi kambing dan domba.
            Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Olehnya itu, saran atau kritikan sangat diharapkan demi perbaikan dalam pembuatan makalah berikutnya. Semoga dengan hadirnya makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca dan khususnya bagi saya selaku penyusun makalah ini.






                                                                                           Kendari 10 November 2016

                                                                                        
                                                                                           Penulis

DAFTAR ISI
Halaman  
HALAMAN JUDUL...............................................................................................    i
KATA PENGANTAR............................................................................................   ii
DAFTAR ISI. ..........................................................................................................  iii
I.   PENDAHULUAN 
A. Latar Belakang…........................................................................................   1
B. Rumusan Masalah........................................................................................   2
C. Tujuan dan Manfaat........................................................................... ........   2
II.  PEMBAHASAN
A.    Produksi Daging.........................................................................................   3
1.      Jenis Kambing Penghasil Daging.........................................................   4
2.      Jenis Domba Penghasil Daging............................................................ 10
B.     Produksi Susu............................................................................................. 14
1.      Jenis Kambing Penghasil Susu............................................................. 14
2.      Manfaat Susu Kambing........................................................................ 15
3.      Macam-Macam domba perah............................................................... 15
C.     Produksi Wol.............................................................................................. 16
1.      Domba Marino..................................................................................... 16
III. KESIMPULAN DAN SARAN
A.  Kesimpulan.................................................................................................. 21
B.  Saran............................................................................................................ 21
DAFTAR PUSTAKA


1.    PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Pembangunan peternakan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat dan swasta. Pemerintah menyelenggarakan pengaturan,pembinaan, pengendalian dan pengawasan terhadap ketersediaan produk peternakan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, bergizi, beragamdan merata. Sedang swasta dan masyarakat memiliki kesempatan untuk berperan seluas-luasnya dalam mewujudkan kecukupan produk peternakan, dapat berupa melaksanakan produksi, perdagangan dan distribusi produk ternak.
Selama ini sub-sektor peternakan masih dipandang sebelah mata oleh banyak pihak. Padahal kalau dikerjakan dengan serius, peternakan dapat menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi daerah bahkan nasional. Pada dasarnya domba dan kambing merupakan jenis hewan ternak pemakan rumput yang tergolong ruminansia kecil, keduanya pun populasinya hampir tersebar merata dan ada di seluruh dunia. Namun bila kita melihat visual fisiknya dengan cermat maka domba berbeda dengan kambing. Postur tubuh domba cenderung lebih bulat dibandingkan dengan kambing yang ramping. Daun telinga kambing panjang dan terkulai. Bentuk bulu domba pun lebih ikal dan keriting sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bulu wool sedangkan lain halnya dengan kambing yang cenderung lurus. Hewan ternak domba yang ada sekarang diduga merupakan hasil dometikasi manusia dari 3 jenis domba liar: Domba Mouflon dari Eropa Selatan dan Asia Kecil, Domba Argali dari Asia Tenggara serta Urial dari Asia. Domba-domba ini awalnya diburu secara liar sampai akhirnya diternakkan oleh manusia.
Populasi ternak kambing di Indonesia mencapai 17.862.203 ekor peningkatan populasi terak kambing dimulai pada tahun 2005 sekitar 629 ribu atau sektar  5% dari pertumbuhannya (Ditjennak, 2012), Ternak adalah hewan yang telah dijinakkan, dikembang biakkan dan dipelihara oleh manusia untuk diambil dan dimanfaatkan  hasil produksinya. Ternak yang dipelihara oleh manusia dapat digolongkan menjadi beberapa golongan berdasarkan hasil produksinya yaitu : (1). Ternak Potong adalah ternak penghasil utama daging, (2). Ternak Perah adalah ternak penghasil utama susu, (3). Ternak Dwiguna adalah ternak penghasil daging atau susu dan biasanya ternak ini juga dipekerjakan oleh petani
Ternak dan hasil produksinya merupakan sumber bahan pangan protein yang sangat penting untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Perkembangan populasi ternak utama dan hasil produksinya merupakan gambaran tingkat ketersediaan sumber bahan protein nasional. Tingkat konsumsi yang akan menentukan kualitas sumber daya manusia dipengaruhi oleh tingkat ketersediaan daging dan produksi ternak lainnya dan tingkat pendapatan rumahtangga (purchasing power). Faktor tingkat pendapatanlah yang akan menentukan apakah rumahtangga/individu akan lebih banyak mengkonsumsi sumber karbohidrat atau protein, yang akan berpengaruh pada tingkat konsumsi berkualitas dan sesuai dengan persyaratan gizi.

B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada  latar belakang maka dapat dirumuskan suatu permasalahan sebagai berikut: “Bagaimana produksi kambing domba yang dapat menghasilkan daging, susu, dan wol sebagai kebutuhan konsumen”.

C.  Tujuan dan Manfaat
Tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui jenis  kambing domba yang  memproduksi daging, susu dan wol.
Manfaat dalam pembuatan makalah ini adalah mahasiswa dapat mengetahui jenis  kambing domba yang  memproduksi daging, susu dan wol.



II. PEMBAHASAN
A.  Produksi Daging
Daging kambing dan domba merupakan komoditas pangan daging yang bahkan memiliki kandungan nutrisi lebih baik dari daging sapi ( Soedjana, Tjeppy D, 2011). Ternak Kambing, selain digunakan sebagai ternak penghasil daging, juga digunakan sebagai ternak penghasil susu. Pasar ekspor kebutuhan kambing dalam negeri perhitungann kebutuhan konsumsi daging sekitar 5,6 juta ekor/tahun, sementara data 2007 menunjukkan populasi ternak kambing nasional sektar 14,9 juta ekor, mengalami tren rata-rata pertumbuhan sekitar 4,02 %/tahun pada 2003  sekitar 12,7 juta ekor.   Ternak domba, tidak jauh berbeda, tren rata-rata pertumbuhannya sekitar 6,04% pada tahun 2003  sekitar 7,8 juta ekor, menjadi sekitar 9,9 juta ekor pada 2007, sehingga dapat menggembirakan, bahwa tingkat konsumsi lokal akan daging kambing dari tahun ke tahun meningkat, terjadi di tengah-tengah dalam catatan di tingkat konsumsi daging kambing mengalami penurunan (Statistik Peternakan, 2012).
Rumpun baru kambing penghasil daging yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian melalui program pemuliaan adalah kambing (Haryono et al , 2011). Menenurut tipenya semua jenis kambing ada rumpunnya salah satu contoh, kambing PE termasuk kambing dwiguna, dengan tingkat produksi susu antara 1,45-2,1/hari/laktasi (Sutama et al. 1995) dan Sutama et al., 1995).
Kambing merupakan salah salah ternak kekayaan Bangsa Indonesia dan patut
dipertahankan keberadaan kambing, walaupun demikian ada juga persilangan antara ternak impor dengan ternak asli yang kemudian ternak crossbred dan mampu beradaptasi dengan baik pada kondisi setempat. Kambing disetiap wilayah mempunyai nama arti tersendiri, pada umumnya kambing dipelihara para peternak kecil, karena kambing mempunyai beberapa keunggulan antara lain: membutuhkan modal usaha yang relatif kecil, mudah cara memeliharanya, banyak digunakan berbagai acara baik untuk keperluan kekeluargaan, seperti syukuran, maupun acara yang berhubungan dengan ritual keagamaan seperti hewan qurban pada hari raya keagamaan aqiqah dan lainnya (Thalib et al. 2011). 
Pada umumnya kambing dipelihara para peternak kecil, karena kambing mempunyai beberapa keunggulan modal usaha yang relatif kecil mudah cara memeliharanya, banyak digunakan berbagai acara baik untuk keperluan kekeluargaa dan lainnya Thalib et al. (2011). Pemerintah saat ini dan seteusnya selalu berusaha terus untuk meujudkan swasembada daging secara berkelanjutan melalui program tujuannya untuk meujudkan kecukuan daging berbasis sumber daya lokal yang di dukung dengan teknologi inopatif tepat guna agar dapat menghasilkan, mempunyai daya saing yang cukup tinggi, program merupakan monumen untuk dijadikan sebagai pendorong dalam mengembalikan Indonesia sebagai eksportir ternak sapi, kambing dan domba.

1.    Jenis Kambing yang Dapat Diternakan Sebagai Kambing Potong
a.    Kambing Kacang
Kambing kacang merupakan tipe kambing potong yang sangat prolific atau mempunyai produktifitas yang tinggi dan ras unggul kambing yang pertama kali dikembangkan di Indonesia. Badannya kecil. Tinggi gumba pada yang jantan 60 sentimeter hingga 65 sentimeter, sedangkan yang betina 56 sentimeter. Bobot pada yang jantan bisa mencapai 25 kilogram, sedang yang betina seberat 20 kilogram. Kambing kacang merupakan kambing lokal Indonesia, memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap kondisi alam setempat serta memiliki daya reproduksi yang sangat tinggi. Kambing kacang jantan dan betina keduanya merupakan tipe kambing pedaging.
Beberapa jenis kambing kacang diantaranya adalah sebagai berikut:
Ø Kambing kacang Indonesia
Ø Kambing kacang Malaysia
Ø Kambing kacang Fiji
Ø Kambing kacang marica
Ø Kambing kacang Filipina

b.   Kambing Angora
 Kambing angora asli berasal dari daerah Asia Tengah. Kambing ini merupakan persilangan antara Capra aegagrus dengan Capra fasconeri. Dipelihara terutama untuk produksi mohair yaitu bulu kambing yang halus selembut sutera dan daging. Meskipun merupakan penghasil bulu, kambing ini dapat pula dikembangkan menjadi ternak penghasil daging. Bobot kambing jantan dewasa sekitar 55 – 80 kg, sedangkan betina sekitar 35 – 45 kg. Kambing angora bisa hidup dengan baik di daerah tropic yang keadaannya kering.

c.    Kambing Achondroplastik
            Ternak ini tergolong kambing kerdil berkaki pendek. Tingginya sekitar 50 cm, dan berat kambing dewasa sekitar 20 kg. penyebarannya terdapat di dekat jalur hutan  dan savana Afrika Barat dan Afrika Tengah. Kambing ini sangat baik diternakkan di daerah tropis yang berhawa lembap karena mudah sekali menyesuaikan diri dengan iklim setempat dan tahan terhadap trypanosomiasis.
            Kambing kerdil ini merupakan kambing pedaging dengan mutu daging yang baik. Bila dipelihara dengan baik mudah sekali menghasilkan anak kembar dua atau tiga. Perkawinan hamper tak mengenal musim karena bisa terjadi sepanjang tahun. Namun, pertumbuhan tubuhnya lambat.

d.   Kambing Bari
Ternak ini tergolong kambing kecil. Banyak terdapat di daerah Sind (Pakistan). Kambing dewasa rata-rata beratnya 20 – 30 kg. Berat karkas 10 – 14 kg. Keunggulannya bersifat prolifik, yaitu setiap kelahiran biasanya beranak kembar 2 – 3 ekor. Meskipun kambing ini tergolong kecil, tetapi sangat cocok dikembangkan menjadi ternak kambing penghasil daging.
e.    Kambing Benggala Hitam
Kambing benggala hitam tergolong kambing kecil. Kambing ini tersebar luas di Assam dan Bangladesh bagaian utara. Bobot dewasa kambing pejantan hanya sekitar 13 kg dan betina 9 kg. Kambing ini terkenal sebagai black bengal. Kambing ini merupakan ternak penghasil daging dengan produksi susu yang sangat sedikit. Kambing ini menghasilkan dagingnya yang sangat enak, lezat, dan lunak. Potensinya sangat besar untuk dikembangkan sebagai kambing potong. Mutu kulitnya sangat bagus dan banyak digunakan bahan untuk membuat sepatu.

f.     Kambing Bligon
Kambing bligon atau gumbolo alias jawa randu merupakan keturunan kambing ettawa dengan kambing kacang. Namun, persentase darah kambing  kacang lebih tinggi, yaitu lebih dari 50%. Kambing ini memiliki moncong yang lancip, telinga tebal dan lebih panjang dari kepalanya, leher tidak bersurai, sosok tubuh terlihat tebal, dan bulu tubuhnya kasar.
Pemeliharaan kambing ini sangat mudah karena menyukai pakan jenis apa saja, termasuk rumput-rumputan lapangan. Selain itu, anak yang dilahirkan cepat besar sehingg sangat tepat kalau dipelihara untuk kambing potong. Jenis kambing ini banyak tersebar di pantai utara Jawa seperti Cirebon dan Semarang, juga banyak dipelihara di daerah Gunung kidul, Yogyakarta.

g.    Kambing Creolo
Kambing creolo merupakan ternak penghasil daging yang sangat popular di Amerika Latin dan Tengah. Memiliki kemampuan hidup di daerah yang sangat kering. Bulunya tipis, pendek, dan berwarna hitam atau cokelat, sering kali terdapat bercak-bercak putih. Tanduknya melengkung dan telinga pendek serata tegak. Kambing jantan memeliki janggut, sedangkan betina tidak memiliki janggut. Tinggi gumba jantan sekitar 75 cm dan betina sekitar 65 cm. Berat hidup kambing dewasa rata-rata 40-60 kg dengan tubuh yang gempal. Jumlah anak per kelahiran 1-2 ekor.

h.   Kambing Gaddi
Kambing ini disebut juga kambing dwiguna karena merupakan penghasil daging sekaligus bulu. Ia tergolong dalam kambing berambut panjang. Bisa menghasilkan 0,5-1 kg rambut kasar per ekor  dengan panjang 17-25 cm. Kambing gaddi dinamakan juga kambing himachal pradesh. Kambing ini banyak terdapat di daerah pegunungan India Utara dan Pakistan.

i.      Kambing Kashmir
            Kambing ini tergolong ternak pegunungan. Sangat cocok hidup di daerah pegunungan Asia Tengah seperti Tibet, Mongolia Dalam, Kashmir, Iran, Turki, Kurdistan, Khirghizia, dan daerah sekeliling Rusia. Ia mampu hidup di daerah kering pada ketinggian 3.600-4.200 m dpl. Berat jantan dewasa sekitar 60 kg dan betina 40 kg untuk kambing asal Mongolia Dalam. Kambing ini merupakan keturunan langsung dari kambing liar Capra falconeri. Kambing gembrong yang terdapat di Bali diduga merupakan keturunan kambing Kashmir.
Kambing Kashmir yang berwarna putih dapat menghasilkan bulu 123 g/ekor/tahun. Kambing Kashmir hitam menghasilkan  bulu 175-200 g/ekor/tahun. Kambing putih bila dipelihara di tempat yang memiliki suhu tinggi atau rendah akan hidup merana. Namun, untuk kambing hitam lebih tahan dhidup di daerah ekstrem. Selain bulu, kambing ini juga menghasilkan daging dan kulit.

j.     Kambing Kerdil dari Cina Selatan
Kambing ini tergolong kambing kerdil daerah tropic lembap. Berat jantan dewasa sekitar 30 kg, sedangkan betina hanya 25 kg. Tergolong sebagai kambing pedaging karena hasil susunya sangat sedikit, yaitu hanya 0,5 kg per hari. Ternak ini sangat sering melahirkan anak kembar dua.



k.   Kambing Spanish
Kambing spanish atau La Mancha berasal dari Spanyol. Ternak ini memiliki ciri khas, yaitu telinganya sangat pendek atau hampir tidak berdaun telinga. Berat jantan dewasa sekitar 55-80 kg dan betina 35-40 kg. Warna bulu bermacam-macam dan berbulu pendek. Kambing ini sangat tangguh dan mampu beradaptasi terutama untuk produksi daging. Keunggulannya memiliki fisiologis reproduksi yang sangat khas, yaitu dapat berkembangbiak pada musim gugur hingga musim dingin dalam setahun. Hal ini memungkinkan kambing dapat beranak dan memproduksi daging sepanjang tahun di daerah subtropis.

l.      Kambing Kecil Afrika Timur
Kambing kecil ini daerah Afrika Timur dan banyak dipelihara sebagai ternak penghasil daging dan kulit. Penampilannya mirip kambing kacang yang terdapat di Indonesia. Warna bulunya bermacam-macam, tetapi rata-rata berambut pendek. Tanduknya kecil. Berat kambing dewasa rata-rata 30 kg. Keunggulan kambing ini sangat prolific, yaitu sering melahirkan anak kembar.

m. Kambing Maxoto
Kambing ini dikenal pula dengan sebutan kambing nungfing. Banyak diternak di Brazil bagian timur laut. Kambing ini diperkirakan berasal dari keturunan portugis charnequeiro varietas elentejo, yaitu kambing potong yang sangat populer di Portugis dan Spanyol. Kambing maxoto memiliki bulu berwarna cokelat mudah atau cokelat kelabu kuning dengna garis-garis hitam di punggung dan perut. Warna bulu muka dan kaki hitam. Hewan ini diternaka untuk diambil kulit dan dagingnya. Berat kambing dewasa rata-rata 32 kg. Induk betina bisa melahirkan tiga kali dalam dua tahun dan hampir 90% selalu melahirkan kembar.



n.    Kambing Sahel
Kambing ini paling cocok dikembangkan di daerah padang pasir yang kering, seperti di Sudan dan Afrika Barat. Keunggulannya tahan panas dan lingkungan yang sangat kering seperti sabana di pinggiran Gurun Sahara. Kambing ini merupakan ternak penghasil daging dan kulit berkualitas tinggi disertai rambut yang pendek, tetapi halus.

o.    Kambing Salt Range
Penyebaran kambing ini meliputi daerah barat laut Pakistan, Rawalpindi, dan Mianwali. Kambing ini unggul dalam menghasilkan daging dan bulu yang berambut panjang. Berat pejantan bisa mencapai 40 kg. Kambing salt range yang berumur satu tahun, berat karkasnya bisa mencapai 15-20 kg. hasil bulu per tahun mencapai 0,5-1 kg per ekor.

p.   Kambing Sirli
Jenis kambing ini banyak terdapat di daerah barat laut Pakistan. Penyebaran ternak terutama di daerah pegunungan berat kambing dewasa sektiar 35 kg. memiliki ukuran rambut panjang yang mencapai sekitar 25 cm.

q.   Kambing Somali
Kambing somali hampir semuanya berbulu putih halus. Kambing jenis ini tergolong sebagai penghasil daging dan kulit. Keunggulannya berkulit tipis, tetapi mutunya bagus. Berat kambing berkisar antara 20-30 kg. Kambing ini banyak terdapat di Somalia, Afrika Timur.






2.    Jenis Domba Penghasil Daging
Perdagangan ternak Domba adalah salah satu kegiatan perniagaan yang tertua di Indonesia, Usaha ini sudah berlangsung sejak jaman kerajaan dan dapat dilihat dari hal-hal yang telah ditinggalkan pemerintah kolonial belanda yaitu berkembangnya peternakan domba tersebut di daerah Jawa Barat, Peninggalan yang masih tersisa pada saat ini adalah Domba Garut yang diduga merupakan adalah hasil kawin silang antara domba priangan (lokal) dengan domba merino, tetapi ada juga yang mengatakan bahwa domba garut adalah hasil perkawinan domba ekor tipis (lokal) dengan domba merino dan setelah itu f1 nya dikawin silangkan lagi dengan domba ekor gemuk asal Afrika secara berulang-ulang.
a.    Domba Garut
Domba Garut adalah domba asli indonesia yang mampu melahirkan dua kali dalam periode waktu satu tahun, dapat dikatakan bahwa domba garut ini memiliki sifat profilik karena dapat beranak lebih dari dua ekor anak domba dalam 1 kali kelahiran. Domba garut sendiri dapat mempunyai bobot diatas rata-rata jenis domba lokal lain yang ada di Indonesia. Domba garut jantan bisa mencapai sekitar 60 hingga 80 kg lebih. sementara domba garut betina antara 30 sampai 50 kg lebih. 
Ø Ciri-ciri domba garut pejantan:
  • memiliki ciri khas bertanduk yaitu bertanduk,  
  • mempunyai karakteristik leher yang kuat berotot,
  • memiliki variasi warna bulu putih, hitam dan cokelat serta bisa juga perpaduan antar ketiga warna tersebut.
Ø Ciri-ciri Domba garut betina:
  • tidak memiliki tanduk melainkan hanya kecil saja. 
Populasi Domba Garut terbesar adalah diprovinsi Jawa Barat antara lain lokasinya misalnya Majalengka, Kuningan, Cianjur, Sukabumi, Tasikmalaya, Bandung, Sumedang, Indramayu, Purwakarta dan wilayah Garut sendiri pada khususnya. Hewan ini lebih sering dikenal masyarakat Jawa Barat sebagai domba aduan yang sering dipertandingkan. Oleh masyarakat garut domba ini biasa di pelihara dan dijadikan hewan kompetisi sebagai domba garut aduan yang telah menjadi seni kebudayaan daerah Provinsi Jawa Barat.

b.    Domba Ekor Tipis
Domba ekor tipis merupakan jenis domba plasma nuftah asli indonesia yang populasi-nya banyak dijumpai di berbagai wilayah Indonesia, terutama di pulau jawa seperti Jawa Barat dan Jawa Tengah. Domba ekor tipis termasuk jenis ternak domba berukuran kecil, berat hidupnya domba dewasa hanya berkisar rata-rata 20 s/d 30 kg. Dengan bulu yang berwarna putih dan pada umumnya domba ekor tipis memiliki bercak hitam di sekitar mata. 
Berikut adalah ciri-ciri domba ekor tipis pada umumnya, sebagai tanda yang dapat digunakan untuk mengenali domba ini:
·       Pada umumnya domba ekor tipis jantan memiliki tanduk dengan bentuk melingkar.
·       Sementara pada domba betina tidak memiliki tanduk.
·       Bulunya relatif kasar dan tidak bagus sebagai bahan wol karena tidak tumbuh diseluruh tubuh. 
·       Memiliki sifat prolific atau dapat melahirkan anak kembar 2 bahkan sampai 5 ekor dalam sekali melahirkan.
·       Cocok diternak sebagai domba penghasil daging, yang biasa disebut domba pedaging atau domba potong.
c.    Domba Ekor Gemuk
Domba Ekor Gemuk atau disebut juga domba sapodi adalah domba yang berasal dari Indonesia asli, tempat plasma nutfah-nya atau genetik-nya sebagian besar berasal dari Kepulauan Sapodi di Madura dan populasi-nya banyak terdapat di sepanjang pantai utara sebelah timur wilayah Indonesia yang mencakup Jawa timur dan Madura serta Lombok hingga Sulawesi. Ada juga yang beranggapan bahwa domba ini asal mulanya dari daerah Asia Selatan, daerah Asia Barat dan daerah Afrika Selatan. Domba ekor gemuk disingkat menjadi “DEG”, pada mulanya dibawa oleh pedagang arab ke Indonesia, domba ini genetik asal mulanya hingga sekarang belum diketahui proporsi-nya.

d.   Domba Black Belly Barbados
Domba Black Belly Barbados adalah jenis domba yang diternakkan dan dikembangkan di daerah Karibia. Ada kemungkinan bahwa domba ini merupakan keturunan dari Domba Afrika. Domba ini dikembangbiakkan untuk diambil dagingnya. Domba Black Belly Barbados juga dikembang biakkan di Amerika. Di Amerika domba ini disilangkan dengan jenis domba Mouflon dan Rambouillet , persilangan dari keduanya menghasilkan jenis domba yang hampir sama dengan domba black belly berbados tapi memiliki tanduk. Domba Black Belly Barbados hasil dari persilangan merupakan domba yang memiliki stamina yang baik sehingga tahan terhadap cuaca panas, domba ini tidak memiliki rambut jenis wool yang tebal, tapi hanya rambut biasa yang kasar.
Domba Black Belly Barbados berkembang biak sepanjang tahun, namun perkembangannya lebih lambat jika dibandingkan dengan domba lain. Mereka sangat toleran terhadap penyakit dan parasit. Domba ini memiliki rentang warna dari coklat muda sampai merah mahoni gelap, dengan garis-garis hitam di wajah dan hitam kaki, perut, daerah inguinal, dagu, dan dada.

e.    Domba Rambouillet
Domba rambouillet adalah jenis domba pedaging yang berasal dari Perancis, domba ini disebut juga sebagai domba merino Perancis. Domba jenis ini adalah type domba dwiguna atau bisa dibilang bahwa domba ini dapat diternak sebagai domba pedaging dan domba penghasil wol. Domba rambouillet ini sudah mengalami perubahan fisik dan telah dapat beradaptasi dengan baik dengan di berbagai lingkungan. Domba ini memiliki ciri-ciri antara lain, memiliki ukuran badan yang besar, dalam, lebar dan padat, serta memiliki tulang yang kuat, berkepala tegak, dan domba jantan memiliki tanduk yang berukuran besar, Lain hal dengan yang betina tidak memiliki tanduk.
f.     Domba Southdown
Domba Southdown pada awalnya dikembang biakkan di Sussex, Belanda selama akhir tahun 1700 dan awal tahun 1800. Domba southdown sangat cocok untuk peternakan produksi daging dan wol. Domba southdown Ini adalah jenis domba yang berukuran kecil dengan warna abu-abu dengan wajah dan kaki bagian bawah berwarna cokelat dan pada bagian kepala domba ini tidak memiliki tanduk. Domba southdown jenis domba dengan tingkat produksi daging yang baik, selain itu Domba southdown adalah jenis domba dengan tingkat produki susu rata-rata saja. Domba southdown unggul dalam kemampuan mereka untuk menghasilkan karkas daging domba yang banyak meski diternakkan di rumah peterakan yang panas. Domba southdown dapat beradaptasi dengan berbagai iklim termasuk iklim yang basah.
Bobot dewasa Domba southdown antara 86 hingga 104 kg, sementara Domba southdown betina sedikit lebih kecil dengan bobot antara 59 hingga 81 kg.
g.    Domba Dorset       
Domba Dorset adalah jenis domba yang berasal dari negara Inggris dan jalur masuknya ke negara Indonesia adalah melalui negara Australia terlebih dahulu, Domba dorset sendiri adalah domba yang biasa diternak sebagai domba pedaging yang bagus, selain itu domba ini juga diternak sebagai domba penghasil wol, namun domba dorset ini kemampuannya dalam memproduksi wol adalah tergolong sedang saja, sehingga domba ini lebih banyak di pelihara sebagai usaha ternak domba pedaging. Dan umumnya domba Dorset ini baik jantan maupun betina semuanya memiliki sepasang tanduk yang melingkar.


B.  Produksi Susu kambing
Selain daging kambing yang berpotensil untuk dikembangkan adalah susu kambing, pemasaran produk asal ternak kambing memiliki prospek yang cerah serta diharapkan dapat menjadi alternative bagi produk susu sapi yang selama ini mayoritas dikonsumsi oleh mayarakat. Pemasukan dan pengeluaran ternak di Indonesia yang terbagi dalam beberapa wilayah Propinsi menggambarkan dinamika pengeluaran dan pemasukan ternak yang berada di setiap wilayah menujukkan yang sangat siginifikan untuk mendukung perkebangan populasi dan menjamin keberhasilan impor ternak ke luar negeri, hal ini perlu dikethaui guna menghitung neraca pemasukan dan pengeluaran ternak, dinamkia dalam tataniaga perdagangan bebas cukup akurat, bila dilihat pemasukan atau pengeluaran ternak ke setiap wilayah dapat teridentivikasi dan tercatat dengan jelas. 

Ø Jenis kambig yang menghasilkan susu :
1.    Kambing Etawa
2.    Kambing Alpines
3.    Kambing Saanen
4.    Kambing Toggenburg
5.    Kambing Anglo-Nubian
6.    Kambing Beetal
7.    Kambing Appenzel
8.    Kambing Pygmy

9.    Kambing Bionde Dell’adamello.

Jenis kambing diatas adalah kambing penghasil susu yang dapat diternakkan, Tetapi tidak semua kambing diatas dapat dikembang biakkan di Indonesia ada beberapa jenis kambing tersebut yang tidak ada di indonesia. Yang paling populer dikembangbiakkan di indoneisia sebagai kambing penghasil susu adalah jenis kambing etawa.
Selain difungsikan sebagai kambing penghasil susu, jenis kambing diatas juga biasanya digunakan untuk kambing pedaging apabila stok kambing pedaging disebuah daerah kehabisan stok. Memelihara jenis kambing penghasil susu sedikit berbeda dengan memelihara jenis kambing pedaging biasanya. Karena jebis kaming ini tidak hanya memerlukan asukan makanan yang cukup tetapi semua nutrisi yang dibutuhkan harus terpenuhi, untuk menghasilkan kualitas susu yang bagus.

Ø Manfaat dari susu kambing jika dikonsumsi manusia yaitu:
1.    Dapat memperbaiki sistem pencernaan dalam tubuh
2.    Menyehatkan kulit
3.    Dapat menyembuhkan penyakit TBC dan Asma
4.    Menguatkan tulang
5.    Menurutkan berat badan dan masih banyak lagi manfaat yang diperoleh jika mengkonsumsi susu kambing
Populasi jenis kambing penghasil susu di Indonesia kebanyakan yaitu kambing etawa seperti yang sudah saya tuliskan diatas. Tetapi juga tidak sedikit dari peternak kambing di Indonesia memilih kambing beetal untuk dijadikan kambing peghasil susu.

Ø Macam – Macam Domba Perah
1.   Domba Basco-béarnaise
Domba Basco-béarnaise juga dikenal sebagai domba Vasca Carranzana. Domba ini adalah domba yang banyak dikembang biakkan di Negara Basque , merupakan hasil dari persilangan domba asli Basque dan Béarnaise, disilangkan mulai tahun 1960 dengan satu tujuan, yaitu diambil susunya atau sebagai domba perah.
Asal usul domba ini adalah domba yang merupakan keluarga keturunan dari  domba Pyrénées. Domba ini mempunya bulu yang berupa jenis wool, bulu woolnya panjang dan menggantung. Bentuk tanduknya spiral  dan menggantung di seputar telinga. Kepala dan kakinya berwarna kuning kemerahan. Domba jantan dewasa beratnya sampai dengan 80kg dan tingginya dapat mencapai 90cm, sedangkan domba betina dapat tumbuh dengan berat 55kg dan tinggi 75cm. Domba ini dapat menghasilkan susu sebanyak 120liter selama masa laktasi 130hari. menghasilkan susu yang kaya matière Grasse (7,42%) dan protein (5,39%).

2.  Suffolk
Domba Suffolk berasal dari Inggris, pengimporannya ke Amerika Serikat pertama kai terjadi pada sekitar tahun 1880.Muka dan kakinya yang hitam merupakan cirri khas domba Suffolk ini.Suffolk merupakan bangsa domba yang sangat besar, tahan panas dan sangat tangguh, dan dapat beradaptasi dengan baik, dan merupakan penghasil anak yang baik pula. Domba betina dari bangsa ini juga merupakan penghasil susu yang baik sekali. Selain itu Suffolk juga merupakan salah satu domba yang memiliki sifat agresif.

C.  Produksi Wol
Kambing angora pada mulanya berasal dari wilayah Asia Tengah. Kambing ini merupakan hasil persilangan kambing capra egagrus dengan kambing capra fasconeri. Kambing angora dipelihara terutama untuk memproduksi bulu, atau mohair yaitu bulu kambing yang halus, halus dan lembut.

1.    Domba Morino
Domba merino telah dikenal banyak oleh masyarakat dunia karena produksi bulu yang berkualitas. Domba merino ini memiliki bulu terbaik diantara sekian banyak bulu domba yang lainnya. Domba merino ini memiliki bulu yang sangat bagus sebagai bahan baku pembuatan kain wol karena bulu yang dimilikinya panjang dan tebal. Domba ini berasal dari daerah asia kecil dan populasi-nya telah banyak tersebar ke banyak belahan dunia. Domba ini sangat cocok dengan habitat negara-negara yang memiliki 4 musim seperti halnya negara Belanda, Australia, Inggris, Spanyol dan Prancis, domba merino tidak cocok terhadap iklim yang panas dan terlalu lembap, sehingga domba ini kurang cocok diternakkan di daerah tropis seperti indonesia pada umumnya.
Ø Berikut adalah ciri-ciri dari domba Merino :
  • Domba merino jantan memiliki tanduk.
  • Sementara domba merino betina tidak bertanduk.
  • Tergolong domba dengan ukuran badan yang sedang.
  • Domba merino jantan dewasa dapat mencapai bobot antara 70 s/d 80 kg, sementara merino betina antara 50 s/d 60 kg.
Pada mulanya, semua domba merupakan domba liar. Sekitar tahun 10.000 SM domba mulai diternakkan oleh manusia. Sebagian besar galur domba wol (wool sheep) berasal dari domba Mouflon. Sebagian besar trah domba bulu (hair sheep) berasal dari domba Urial. Sebelum domestikasi domba, anjing dan rusa sudah dijinakkan manusia.
Setelah domba dipelihara dalam kondisi diternakkan, domba mulai mengalami beberapa perubahan. Pada bagian luar, domba mulai mengalami pertumbuhan lebih banyak rambut wol daripada rambut bulu. Warna wol dan bulu berubah dari coklat dan coklat muda menjadi putih dan hitam. Telinga domba juga menjadi lebih terkulai dan kurang tegak. Tanduk domba yang terdapat pada domba liar semakin menyusut dan hilang pada kebanyakan trah domba ternak. Pada bagian dalam juga terjadi perubahan pada domba. Perubahan internal ini terjadi pada bagian muka maupun belakang badan domba. Ekor domba jadi lebih sedikit tulangnya daripada domba di zaman kuno. Domba sekarang juga lebih kecil otaknya dibandingkan dengan domba 12.000 tahun yang lalu.
Domba diternakkan untuk mendapatkan beberapa manfaat yang masih berlaku sampai sekarang. Pada mulanya domba diternakkan untuk mendapatkan daging, kulit, susu dan wol. Sekarang domba masih digunakan dengan tujuan pokok yang sama ditambah lagi dengan berbagai tujuan lainnya. Produk sampingan domba banyak digunakan pada berbagai macam produk yang kita gunakan sehari-hari.

Berat lahir domba berkisar 2,5 sampai 4 kg per ekor. Jumlah rata-rata anak domba yang dilahirkan seekor domba betina 1,1 sampai 1,4 ekor domba per tahun. Anak domba yang baru lahir akan menyusu pada induknya selama 2 sampai 3 bulan. Sekitar 15 ekor domba memerlukan padang rumput seluas 1 hektar.
Dilihat dari penutup badannya, domba terbagi menjadi beberapa kategori: domba wol halus, domba wol sedang, domba wol panjang, domba wol karpet, dan domba bulu. Domba wol halus adalah domba yang menghasilkan wol bermutu paling tinggi. Yang termasuk dalam kategori ini adalah domba Merino galur murni seperti domba Merino Spanyol, domba Cormo Amerika, domba Merino Booroola, domba Debouillet, domba Merino Delaine, dan domba Rambouillet. Domba Merino mampu beradaptasi dengan lingkungan gersang dan semi-gersang. Domba Merino memiliki naluri berkelompok yang sangat kuat. Domba penghasil wol halus ini merupakan lebih dari 50 persen dari populasi domba di seluruh dunia. Domba wol halus banyak terdapat di Australia, Afrika Selatan, Amerika Selatan, dan Amerika Serikat Bagian Barat.
Domba wol sedang adalah domba yang menghasilkan wol berkualitas sedang. Domba yang masuk dalam klasifikasi domba wol sedang adalah segala jenis domba peranakan domba Merino. Domba wol sedang biasanya dijadikan sebagai domba ternak untuk tujuan ganda, yaitu penghasil wol kualitas sedang dan penghasil daging. Domba wol sedang yang paling terkenal di Amerika Serikat adalah domba Suffolk, domba Dorset, dan domba Hampshire. Domba wol sedang merupakan 15 persen dari seluruh populasi domba di dunia.
Domba wol panjang adalah domba yang menghasilkan wol yang kasar dan kuat dengan panjang 12 inci per tahun. Domba wol panjang paling cocok hidup di daerah beriklim sejuk, bercurah hujan tinggi, dan terdapat pakan hijauan yang melimpah. Domba yang diklasifikasikan domba wol panjang adalah berbagai jenis domba Inggris. Domba Border Leicester, domba Coopworth, domba Costwold, domba Lincoln, domba Perendale, dan domba Romney termasuk dalam golongan domba wol panjang. Domba wol panjang banyak diternakkan di Inggris, Skotlandia, Selandia Baru, dan Kepulauan Falkland.
Domba wol karpet adalah domba yang menghasilkan wol yang paling kasar dan paling rendah kualitasnya. Wol jenis ini biasa digunakan untuk pembuatan karpet. Rambut domba wol karpet terdiri dari rambut dalam dan rambut luar. Rambut luar domba wol karpet berupa wol yang panjang dan kasar sebagi pelindung terhadap cuaca lingkungan yang ekstrem. Contoh domba yang dikategorikan sebagai domba wol karpet adalah domba Islandia, domba Karakul, domba Navajo Churro, dan domba Skotlandia Muka Hitam.
Berdasarkan klasifikasi domba wol di atas, domba asli Indonesia, yaitu domba kampung atau domba ekor tipis nampaknya termasuk dalam kategori domba wol karpet. Hal ini terbukti dari kenyataan bahwa rambut domba ekor tipis berupa wol kasar dan tidak mengalami peluruhan alami. Karena peternak tradisional biasanya tidak pernah mencukur rambut wolnya, rambut domba ekor tipis umumnya terlihat kusut dan bergumpal-gumpal.
Domba bulu (hair sheep) adalah domba yang rambutnya bukan berupa wol tapi seluruhnya berupa bulu. Dari pengamatan visual, rambut bulu pada domba bulu ini terlihat seperti rambut bulu pada kambing. Namun demikian, domba yang sebagian rambutnya berupa wol tapi sebagian besar rambutnya berupa bulu juga dimasukkan dalam kategori ini. Domba yang rambutnya merupakan perpaduan rambut bulu dan rambut wol ini akan mengalami peluruhan alami rambut wolnya secara berkala sehingga tidak perlu dicukur.
Ketiga jenis domba liar yang menjadi nenek moyang domba ternak, yaitu domba Argali, domba Urial, dan domba Mouflon, termasuk kelompok domba bulu. Sebagian besar domba bulu ternak terdapat di Afrika dan kawasan Karibia. Meskipun demikian, domba bulu juga ditemukan di daerah beriklim sedang di Amerika Serikat dan Kanada. Beberapa contoh domba bulu ternak yang terkenal adalah domba Dorper, domba Katahdin, domba Barbados Perut Hitam, domba Barbado atau disebut juga domba Amerika Perut Hitam (American Blackbelly), domba Pelibuey, dan domba Damara.
Domba bulu merupakan 10 persen dari populasi domba di seluruh dunia. Namun demikian, populasi domba bulu terus berkembang dengan sangat pesat karena peternak di Amerika Serikat, Australia, Inggris, dan negara-negara Eropa lainnya semakin banyak yang lebih suka memelihara domba bulu daripada domba wol karena dua pertimbangan utama: pertama, biaya pencukuran wol semakin mahal tapi harga jual wol semakin menurun, dan kedua, domba bulu tidak memerlukan pencukuran sama sekali sehingga lebih efisien.













III. KESIMPULAN DAN SARAN
A.  Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan meteri diatas maka disimpulkan sebagai berikut:
1.    Produksi daging kambing domba adalah suatu upaya para peternak yang dapat memelihara ternaknya dengan hasil produktivitas daging yang ideal dalam kebutuhan sumber protein hewani.
2.     Susu kambing merupakan susu yang dihasilkan oleh kambing betina setelah melahirkan. Susu kambing merupakan peningkatan kemampuan untuk menyerap zat besi dan tembaga, terutama pada orang yang memiliki system pencernaan yang terganggu.
3.    Wol adalah serat yang diperoleh dari rambut hewan dari keluarga caprinae, terutama domba dan kambing.

B.  Saran
Kambing dan domba merupakan ternak yang dapat menghasilkan anak 3 kali dalam dua tahun. Agar produksi daging, susu, dan wol pada kambing domba perlu adanya peningkatan manajemen pemeliharaan yang dapat menghasilkan produk dari hasil ternak.





DAFTAR PUSTAKA
Anonym, 2012. Fakta Mengenai Domba. http://area-peternakan.bolgspot. co.id/2011/02/fakta-mengenai-domba.html.

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan. 2012. Buku Statistik Peternakan 2012. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan. Propinsi Lampung

Haryono, B.Tiesnamurti, B. Setiadi, S.P. Ginting dan C, Thalib. 2011. Penyediaan Bibit Unggul Ruminansia Kecil yang Dihasilkan Badan Litbang Pertanian. Prosiding Workshop Nasional Diversifikasi Pangan Daging Ruminansia Kecil. Puslitangnak bekerjasama dengan Puslitbangbun Jakarta 15 Oktober 2012, hal, 3-16.

Soedjana, Tjeppy D. 2011. Peningkatan Konsumsi Daging Ruminansia Kecil Dalam Rangka Diversifikasi Pangan Daging Mendukung PSDSK 2014. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.

Sutama,I.K. I.G.M.Budiarsana, H.Setianto and A.Priyanti. 1995. Productiv and reproductive, performance of young Peranakan Etawah does JITV 1 (2) : 81-85.

Thalib, A.,Y. Widiawati, W. Puastuti and firsoni. 2011. Use a chamber method to verify the effectiveness of a complete rumen modifier reducing the enteric methane on ruminants. Submitted. Proc. of 6th Int. Symp. on Non-CO2 Greenhouse Gas (in press)

 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar