BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara tropis
yang sumber keragaman alamnya sangat melimpah, salah satunya adalah sumber
keragaman hewan yang cocok dibudidayakan di Negara Indonesia, terutama kambing
merupakan salah satu komoditas ternak yang cukup potensial untuk dikembangkan.
Ternak ini banyak dipelihara di pedesaan, karena telah diketahui kemampuannya
beradaptasi dengan lingkungannya yang sederhana, miskin pakan, dan dapat lebih
efisien dalam mengubah pakan yang berkualitas rendah menjadi air susu dan
daging. Disamping itu kambing mempunyai kemampuan reproduksi relative tinggi
dan tahan terhadap serangan penyakit.
Populasi ternak kambing dengan
berbagai jenis Kambing PE ( peranakan ettawa ) pada
umumnya masih relatife lebih kecil, Karena jumlah peternak yang memilih
memelihara ternak kambing PE masih belum banyak. Disisi lain, masih sedikitnya
peternak memelihara PE dikarenakan beberapa hal, antara lain : Bibit kambing
etawa harganya relative lebih mahal, bibitnya sulit diperoleh dan terbatasnya
populasi.
Ternak kambing khususnya kambing
Peranakan Ettawa (PE), merupakan salah satu sumberdaya penghasil bahan makanan
berupa daging dan susu yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi, dan penting
artinya bagi masyarakat. Seiring hal tersebut peternakan kambing memiliki
peluang yang cukup besar dengan semakin sadarnya masyarakat akan kebutuhan gizi
yang perlu segera dipenuhi.
Peternakan kambing dalam
perkembanganya tidaklah semudah yang kita bayangkan. Banyak hal yang menjadi
masalah dalam perkembanganya, beberapa masalah tersebut adalah Pemeliharaan
yang masih bersifat tradisional, Terbatasnya
ketersediaan bakalan yang merupakan pengeluaran terbesar dalam suatu proses
produksi, Keterbatasan fasilitas yang
menimbulkan efek langsung pada proses produksi Manajemen pakan yang kurang
baik.
B. Tujuan dan Manfaat
Tujuan dalam pembuatan
makalah perbibitan ternak ini dalah
sebagai berikut:
1.
Untuk mengetahui tahap perencanaan
pembibitan kambing PE
2.
Untuk mengetahui metode pengorganisasian
pembibitan kambing PE
3.
Untuk mengetahui metode pelaksanaan
pembibitan kambing PE
4.
Untuk mengetahui metode pengawasan
pembibitan kambing PE
Manfaat yang dapat
dipetik dalam pembuatan makalah perbibitan ternak adalah sebagai berikut:
1.
Mahasiswa dapat memahami tahap perencanaan
pembibitan kambing PE,
2.
Dapat memahami metode pengorganisasian
pembibitan kambing PE,
3.
Dapat memahami metode pelaksanaan
pembibitan kambing PE,
4.
Dapat memahami metode pengawasan
pembibitan kambing PE.
C. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam
pembuatan makalah perbibitan ternak adalah sebagai berikut:
1.
bagaimana tahap perencanaan pembibitan kambing PE?
2.
bagaimana metode pengorganisasian
pembibitan kambing PE?
3.
bagaimana metode pelaksanaan pembibitan
kambing PE?
4.
bagaimana metode pengawasan pembibitan
kambing PE?
BAB
II
PEMBAHAASAN
A. Tahap Perencanaan Pembibitan
Kambing Peranakan Etawa (PE)
Dalam beberapa jenis usaha tentu harus memiliki
acuan serta obsesi pada faktor keuntungan, tentu kita harus benar benar menganalisa
serta mempertimbangkan banyak faktor serta kemungkinan yang mungkin akan kita
temui sebagai tahapan maupun kendala dalam setiap usaha. Perencanaan beternak
pun harus memiliki usaha yang cukup matang untuk memulai usaha di bidang ini,
banyak sekali faktor yang menjadi pertimbangan dalam memiliki usaha peternakan
kambing etawa namun setidaknya kita mulai dengan beberapa tahapan dari
persiapan, pelaksanaan, produksi, hingga evaluasi.
Setiap usaha peternakan haruslah berorientasi pada
keuntungan agar usaha tersebut bisa berkesinambungan dan tidak terhenti
ditengah jalan. Karenanya, dibutuhkan perencanaan yang sangat matang dengan
mempertimbangkan beberapa aspek. Pada dasarnya ada empat kegiatan yang harus
dilakukan oleh peternak dalam membuat usaha peternakan.
a. Tahap
Persiapan
Kegiatan persiapan
meliputi penentuan lokasi dan pengurusan perijinan terutama jika skala usaha
relative besar. Lokasi memegang peranan besar, karena seluruh usaha kegiatan
peternakan dipusatkan disini. Kondisi iklim, seperti suhu lingkungan, curah
hujan, arah mata angina, dan kelembaban, yang menunjang usaha peternakan
kambing harus diperhatikan agar hasil yang diperoleh dapat maksimal. Selain
itu, kondisi keamanan lingkungan serta daya dukung lingkungan terhadap usaha
peternakan kambing, misalnya ketersediaan tenaga kerja (SDM) maupun bibit
kandang, perlu diperhatikan secara matang.
Perijinan dibutuhkan
jika usaha yang akan dibangun bersekala besar. Untuk usaha yang bersekala
kecil, agar tidak menimbulkan persoalan dikemudian hari, sebaiknya meminta ijin
dari warga sekitar yang berada di sekitar kandang ternak. Sebuah survey untuk
mengetahui daya serap pasar juga peru dilakukan agar hasil produksi bisa
terjual. Perlu juga diperhatikan banyaknya pesaing dengan jenis usaha yang
sama, karena jika hasil usaha yang tinggi dan daya serap pasar rendah, maka
harga produk bisa menurun tajam.
b. Tahap
Pelaksanaan
Pada intinya tahap pelaksanaan merupakan tahapan
konstruksi, yaitu melakukan pembangunan kandang, menyiapkan lahan untuk
ditanami hijauan pakan ternak, serta mempersiapkan berbagai peralatan kandang.
Pembangnan kandang beserta persiapan infrastrukturnya harus disesuaikan dengan
jumlah kambing yang akan dipelihara degan tetap mempertimbangkan kemungkinan
perkembangan usaha. Tujuannya adalah untuk efisiensi penggunaan modal.
Hijauan merupakan unsure penting yang harus
disiapkan karena kebutuhan kambing akan hijauan tidak bisa di tunda. Sebelum
usaha peternakan di mulai, sebaiknya sudah dilakukan penanaman tanaman hijauan,
sehinggan ketersediaannya akan terjamin. Perlu pula diketahui sumber-sumber
bahan pakan local untuk digunakan ssebagai bahan baku pembuatan kosentrat. Hal
ini dilakukan untuk menekan biaya.
c. Tahap
Produksi
Setelah tahapan
konstruksi, tahapan produksi sudah bisa dilaksanakan, yaitu dengan melakukan
pembelian kambing, pengeloalaan tanaman hijauan, penggeloaan produksi hingga
pasca panen, dan penjualan produk.
d. Tahap
Evaluasi
Sebuah perencanaan usaha yang baik harus mencakup
sebuah target yang akan dicapai dari usaha tersebut. Tujuanya adalah untuk
mempermudah peternak dalam evaluasi, sampai sejauh mana target yang
direncanakan sudah tercapai, mencari berbagai penyebab jika target tidak
tercapai, serta melakukan perbaikan agar target bisa tercapai dan ditingkatkan.
Target bisa dibuat dalam jangka pendek (1 tahun), jangka menengah (2-5 tahun),
dan jangka panjang (di atas 5 tahun). Target biasanya dibuat dengan parameter
ekonomi yang dituangkan dalam sebuah analisis usaha.
Setiap pelaksanaan semua usaha atau anggaplah sebuah
project tentu kita harus mempersiapkan banyak hal ,untuk memulai kegiatan
beternak kambing etawa kita haruslah mempersiapkan lokasi yang akan kita
gunakan sebagai tempat untuk beternak kambing etawa. Dalam menentukan lokasi
kitapun tidak boleh gegabah mengingat kondisi keamanan, cuaca, suhu udara serta
faktor kelembapan juga di butuhkan pengamatan yang cukup serius.
Faktor lain yang tak kalah pentingnya adalah keberadaan
lokasi beternak yang berlokasi di pemukiman sebaiknya di hindari sebab dalam
jumlah ternak yang banyak tentu akan menimbulkan polusi maupun beberapa
penyakit. Selain Faktor Lokasi beternak
kita juga harus membekali persiapan pengetahuan yang cukup mengenai seluk beluk
beternak kambing etawa. Pada tahap berikutnya adalah pembangunan kandang
sedangakan untuk pembangunan kandang yang terpenting adalah melilihat secara
utuh fungsi kandang sebagaimana saya tuliskan dalam kandang kambing etawa
,sedangkan untuk ukuran pembangunan kandang tentu harus mempertimbangkan berapa
jumlah kambing yang akan kita pelihara. Setelah pembuatan kandang tentu kita
juga harus mempersiapkan ketersediaan pakan ternak ,lahan pakan ternak juga
harus kita persiapkan dengan menanam beberapa hijauan makanan ternak ,sedangkan
jenis makanan ternak anda boleh melihat pada tulisan saya tentang hijauan makan
ternak.
Setelah tahapan kita memiliki lokasi untuk kandang
dan memiliki lahan pakan ternak yang sudah di perhitungkan untuk jumlah yang
cukup memenuhi kebutuhan kambing etawa barulah kita memulai pembelian bibit
kambing etawa, yang kemudian kita lanjutkan dengan memelihara kambing etawa
serta merawat lahan pakan ternak.
Setelah tahapan tahapan itu kita lalui kemudian mulailah mempelajari serta membuat analisa laba rugi yang bisa kita buat dalam beberapa hitungan dengan jumlah kecil dengan waktu yang pendek ,atau jumlah menengah dengan waktu yang agak panjang,kemudian kita akan dapat memperhitungkan dengan baik kelayakan usaha yang kita buat tersebut.
Setelah tahapan tahapan itu kita lalui kemudian mulailah mempelajari serta membuat analisa laba rugi yang bisa kita buat dalam beberapa hitungan dengan jumlah kecil dengan waktu yang pendek ,atau jumlah menengah dengan waktu yang agak panjang,kemudian kita akan dapat memperhitungkan dengan baik kelayakan usaha yang kita buat tersebut.
Kambing Peranakan Etawa ini memiliki ciri
khas pada bentuk mukanya yang cembung, bertelinga panjang-mengglambir, postur tubuh
tinggi (gumla) antara 90-110 cm, bertanduk pendek dan ramping. Kambing jenis
ini mudah berkembang dengan baik di daerah berhawa dingin, seperti daerah
sekitar pegunungan atau dataran tinggi . Kambing jenis ini memiliki badan besar
warna bulu beragam, belang putih, merah coklat, bercal, bercak hitam atau
kombinasi ketiganya dan pada bagian belakang terdapat bulu yang lebat dan
panjang. Panggemar kambing Peranakan Etawa umumnya sangat menyukai keindahan
bulu dan bentuk mukanya.
B.
Metode
Pengorganisasian Pembibitan Kambing Peranakan Etawa (PE)
Pengorganisasian adalah
merupakan fungsi kedua dalam Manajemen. Organisasi
identik dengan sekelompok Individu yang terstruktur dan sistematis yang berada
dalam sebuah sistem. pengorganisasian didefinisikan sebagai proses kegiatan
penyusunan struktur organisasi sesuai dengan tujuan-tujuan, sumber-sumber, dan
lingkungannya. Kegiatan Penguatan Pembibitan Kambing
peranakan etawa PE dilaksanakan secara terkoordinasi mulai dari tingkat Pusat
sampai dengan tingkat lapangan. Oleh karena itu dalam upaya mengoptimalkan
pelaksanaannya diperlukan pengaturan organisasi untuk memperjelas tugas dan
fungsi dari setiap lini kelembagaan, sebagai berikut :
1. Tim Pusat Direktorat Jenderal Peternakan dan
Kesehatan Hewan
Dalam pelaksanaan kegiatan Penguatan Pembibitan
Kambing Terpilih, Tim Pusat Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan,
mempunyai kewajiban sebagai berikut :
a. Menyusun
Pedoman Penguatan Pembibitan Kambing di Provinsi Terpilih.
b. Mengkoordinasikan
kegiatan di tingkat Pusat dan daerah.
c. Melakukan
sosialisasi dan pembinaan kegiatan.
d. Melakukan
monitoring dan evaluasi.
e. Menyusun
dan menyampaikan laporan perkembangan pelaksanaan kegiatan kepada Direktur
Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.
2. Tim
Pembina Provinsi
a. Menyusun
petunjuk pelaksanaan dengan mengacu kepada pedoman pelaksanaan dan disesuaikan
dengan kondisi spesifik masing-masing daerah yang ditetapkan oleh kepala dinas
provinsi.
b. Melakukan
verifikasi terhadap calon kelompok terpilih.
c. Menetapkan
kelompok peternak penerima kegiatan penguatan pembibitan kambing.
d. Mengkoordinasikan
pelaksanaan kegiatan dengan instansi terkait di tingkat Pusat, provinsi dan
kabupaten.
e. Melakukan
sosialisasi dan pembinaan kegiatan serta penanganan masalah di tingkat
provinsi.
f. Melaksanakan
pembinaan, monitoring dan evaluasi serta penanganan masalah di tingkat
provinsi.
g. Menyusun
dan melaporkan perkembangan pelaksanaan kegiatan untuk disampaikan kepada
kepala dinas provinsi dan kemudian diteruskan kepada Direktur Jenderal
Peternakan dan Kesehatan Hewan.
3.
Tim Teknis Kabupaten.
Dalam pelaksanaan kegiatan, tim teknis kabupaten,
mempunyai kewajiban sebagai berikut :
a. Menyusun
petunjuk teknis kegiatan dengan mengacu kepada petunjuk pelaksanaan dan
disesuaikan dengan kondisi spesifik daerah yang ditetapkan oleh dinas
kabupaten.
b. Mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan dengan
instansi terkait di tingkat kabupaten.
c. Mengusulkan
kelompok peternak calon penerima kepada Kepala dinas provinsi untuk ditetapkan
sebagai kelompok peternak penerima.
d. Melakukan
sosialisasi dan pembinaan kegiatan di tingkat kabupaten.
e. Melakukan
seleksi calon penerima dan calon lokasi kelompok (CP/CL).
f. Melakukan
pendampingan pelaksanaan kegiatan.
g. Melakukan
monitoring dan evaluasi.
h. Membuat
laporan perkembangan pelaksanaan kegiatan di tingkat kabupaten untuk
disampaikan kepada Kepala Dinas Kabupaten yang kemudian diteruskan kepada
Kepala Dinas Provinsi.
4. Kelompok Penguatan Pembibitan.
Kelompok penguatan pembibitan mempunyai kewajiban
sebagai berikut :
a. Melakukan
pemeliharaan ternak dengan baik dan menerapkan prinsip-prinsip pembibitan
antara lain melakukan pencatatan/rekording individu ternak (silsilah, penimbangan,
pengukuran, perkawinan,dll) dan seleksi.
b. Melakukan
perkawinan ternak dengan pejantan/semen beku unggul yang serumpun.
c. Mengikuti
bimbingan dan pembinaan dari Tim Pembina/Tim Teknis.
d. Bersedia
mengikuti kegiatan pembibitan lainnya (manajemen pembibitan terpadu, dll).
e. Semua
aset yang sudah dilimpahkan ke kelompok merupakan tanggungjawab kelompok.
f. Melaporkan
perkembangan kegiatan setiap tiga bulan sekali kepada dinas yang membidangi
fungsi peternakan dan kesehatan hewan.
5. Petugas Rekorder Dinas dan Kelompok.
a.
Melakukan kegiatan pengukuran dan
penimbangan performan anak dan individu calon bibit kambing/domba dengan menggunakan
sarana rekording (timbangan ternak, tongkat ukur dan pita ukur).
b.
Melakukan pencatatan kartu ternak dan
penghitungan atas hasil pengukuran dan penimbangan performan anak dan individu
calon bibit kambing/domba yang dilakukan oleh petugas rekorder dinas dan
kelompok.
c.
Melaporkan hasil rekapitulasi
perkembangan kegiatan pembibitan dan penghitungan untuk disampaikan kepada
Kepala Dinas Kabupaten yang kemudian diteruskan kepada Kepala Dinas Provinsi.
C. Metode Pelaksanaan Pembibitan
Kambing Peranakan Etawa (PE)
Pelaksanaan pembibitan kambing
peranakan etawa (PE) dapat diawali dengan cara sebagai berikut:
1.
Usaha beternak
kambing
Kambing banyak dipelihara oleh penduduk
pedesaan Indonesia (Mulyono, 2003), karena pemeliharaannya lebih mudah
dilakukan dibandingkan dengan ternak ruminansia besar. Kambing cepat berkembang
biak dan pertumbuhan anaknya juga tergolong cepat. Menurut Sarwono (1999),
nilai ekonomis, social, dan budaya beternak kambing sangat nyata, karena
peningkatan pendapatan keluarga bisa mencapai 14-25 % dari total pendapatan
keluarga, semakin rendah perluasan lahan pertanian dan nilai sumber daya yang
diusahakan dari beternak kambing.
Menurut Sarwono (1999),
bila tata laksana pemeliharaan ternak kambing yang sedang bunting atau menyusui
serta anaknya baik, maka bobot anak kambing bisa mencapai 10-14 kg/ekor ketika
disapih pada umur 90-120 hari. Williamson dan payne (1993) menyatakan untuk
kambing pedaging ada kecendrungan menunda penyapihan untuk memberikan
kesempatan anak kambing memperoleh keuntungan yang maksimal dari susu induknya.
Sedangkan untuk kambing perah, penyapihan harus dilakukan lebih awal, tanpa
mengganggu pertumbuhan anaknya, agar kelebihan produksi induk dapat
dimanfaatkan oleh peternak untuk meningkatkan pendapatan atau keperluan gizi
keluarga (Asih, 2004).
2. Sistem
Pemeliharaan Ternak Kambing PE
Menurut Williamson dan Payne (1993), sistem pemeliharaan
secara ekstensif umumnya dilakukan di daerah yang padang pengembalaannya luas,
kondisi iklim yang menguntungkan, dan untuk daya tampung kira-kira tiga sampai
dua belas ekor kambing per hektar. Sistem pemeliharaan secara ekstensif, induk
yang sedang bunting dan anak-anak kambing yang belum disapih harus diberi
persediaan pakan yang memadai (Devendra dan Burns, 1994). Rata-rata pertambahan
bobot badan kambing yang dipelihara secara ekstensif dapat mencapai 20-30 gram
per hari (Mulyono 2003). Menurut Sarwono (1999), bila tata
laksana pemeliharaan ternak kambing yang sedang bunting atau menyusui serta
anaknya baik, maka bobot anak kambing bisa mencapai 10-14 kg/ekor ketika
disapih pada umur 90-120 hari.
Sistem pemeliharaan secara intensif memerlukan pengandangan
terus menerus atau tanpa pengembalaan dan lebih terkontrol (Williamson dan
Payne 1993). Kambing jantan dan betina dipisahkan begitu juga betina muda dari
umur tiga bulan sampai cukup umur untuk dikembang biakkan. Kambing pejantan
harus dipisahkan dengan yang betina (Devendra dan Burns, 1994). Pertambahan
bobot badan pada sistem pemeliharaan intensif ini bisa mencapai 100-150 gram
per hari dengan rata-rata 120 gram perhari (Sarwono, 1999).
Sistem pemelihraan semi intensif merupakan gabungan dari
ekstensif dan intensif yaitu dengan pengembalaan terkontrol dan pemberian
konsentrat tambahan (Williamson dan Payne 1993). Pertambahan bobot badan sistem
ini bisa mencapai 30-50 gram per hari.
3. Pemeliharaan Induk Kambing Laktasi
Pemliharaan induk
kambing laktasi dapat dilakukan dengan beberapa cara untuk memenuhi kebutuhan
susu anaknya dan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tubuhnya yaitu dengan
melakukan penanganan pada waktu melahirkan, kemudian memperhatikan pakan dan
air minum yang diberikan dan juga sanitasi (kebersihan) kandang supaya
terhindar dari sumber-sumber penyakit yang bisa mengurangi produktifitas induk
kambing laktasi tersebut (Anonim, 2009).
4. Pemberian pakan pada induk kambing PE
Sarwono (1999) menyatakan, kambing membutuhkan jenis hijauan
yang beragam. Kambing sangat menyukai daun-daunan dan hijauan selain itu
kambing juga memerlukan pakan penguat untuk mencukupi kebutuhan gizinya. Pakan
penguat bisa berupa dedak, bekatul padi, jagung atau ampas tahu dan dapat juga
campurannya. Sodiq (2002) menjelaskan, kambing tergolong hewan herbivore atau
hewan pemakan tumbuhan. Kebutuhan ternak ruminansia terhadap pakan, tergantung dari
jenis ternaknya, umur ternak, fase (pertumbuhan, dewasa, bunting atau
menyusui), kondisi tubuh dan lingkungan tempatnya hidup.
Pakan sangat dibutuhkan kambing untuk tumbuh dan berkembang
biak (Sarwono, 1991). Pakan yang sempurna mengandung gizi seperti protein,
karbohidrat lemak, vitamin dan mineral yang seimbang (Mulyono, 2003). Pemberian
pakan yang efisien mempunyai pengaruh lebih besar dari pada faktor-faktor yang
lainnya, dan merupakan cara yang sangat penting untuk peningkatan produktivitas
(Devendra dan Burns, 1994).
5. Penanganan kesehatan induk kambing PE
Ternak kambing merupakan ternak yang umumnya dipelihara di
pedesaan, sehingga banyak ditemukan penyakit-penyakit seperti scabies (kudis),
belatungan (myasis), cacingan dan keracunan tanaman. Pengobatan yang biasa
diberikan di pedesaan yaitu pengobatan tradisional, meskipun banyak obat-obatan
terjual di toko. Namun demikian usaha pencegahan perlu dilakukan dengan menjaga
kebersihan ternak dan lingkungannya, pemberian pakan yang cukup (kualitas dan kuantitas),
bersih dan tidak beracun (Anonim, 2009).
Menurut Muljana (2001), Pengobatan ternak kambing khususnya
penyakit scabies bisa menggunakan obat seperti Asuntol, Tiguvon, Neguvon,
Termadex, Benzyl Benzonate dan bisa dilakukan dengan cara menempatkan ternak
ditempat yang hangat dan pakan bergizi tinggi, rambut kambing dicukur dan
dimandikan serta bisa juga menggunakan obat-obatan seperti serbuk belerang
dicampur kunyit dan binyak kelapa yang dipanasi, kemudian dioleskan.
Penyakit belatung disebabkan oleh luka yang berdarah dan
infeksi kemudian dihinggap lalat sehingga tumbuh larva belatung. Pengobatan
dapat dilakukan dengan menggunakan Gusanex dan obat anti biotik lainnya, atau
bisa dilakukan dengan cara membersihkan luka kemudian obati dengan gerusan kamper/kapur
barus kemudian luka ditutup dengan perban dan diulangi pada hari selanjutnya
(Anonim, 2009).
Simon (2009) menjelaskan, Parasit pada sluran pencernaan
kambing dapat mengganggu kesehatan dan menurunkan produktivitas atau
menyebabkan kematian pada kasus akut. Penyakit ini bisa disebabkan oleh pakan
hijauan yang telah terinfeksi larva parasit. Ciri penyakit ini adalah kepucatan
pada lingkar putih mata, dibagian dalam mulut, rectum dan vagina serta
kadang-kadang disertai mencret. Pengobatan penyakit ini bisa dilakukan dengan
memberikan anti parasit setiap 2-3 bulan sekali. Jenis anti parasit yang
diberikan sebaiknya rotasi setiap tahun untuk mencegah timbulnya resistensi
terhadap anti parasit yang diberikan.
D. Metode Pengawasan Pembibitan
Kambing Peranakan Etawa (PE)
Dalam
usaha peternakan kambing peranakan etawa, terlebih lagi jika pemeliharaan
dengan jumlah besar, kambing memerlukan perhatiaan atau pengawasan yang cukup
serius, sehingga perlu ditempatkan dalam sebuah kadang. Membangun kandang untuk
kambing etawa seperti membangun rumah untuk tempat tinggal manusia, sehingga
secara hakekat normative harus sama. Pembangunan kandang memerlukan
keterampilan dan keseriusan. Tujuannya adalah untuk menciptakan desain kandang
yang sempurna bagi kambing yang akan dipelihara agar benar-benar menjadi home
sweet home bagi kambing itu sendiri. Prinsipnya adalah konstruksi kandang harus
dapat membuat kambing merasa nyaman dan aman. Dalam hal ini kandang memiliki
fungsi sebagai berikut ini:
1. Kandang harus dapat melindungi
kambing dari hewan-hewan pemangsa maupun hewan penganggu.
2. Kandang harus dapat mempermudah
kambing dalam melakukan aktifitas keseharian kambing seperti makan, minum,
tidur, kencing, atau buang kotoran.
3. Kandang dapat mempermudah peternak
dalam melakukan pengawasan dan menjaga kesehatan ternak.
4. Sebagai tindakan preventif agar supaya
kambing tidak merusak tanaman dan fasilitas lain yang berada di sekitar lokasi
kandang, serta menghindari terkonsumsinya pakan yang berbahaya bagi kesehatan
kambing.
Kandang di usahakan di bangun dilokasi yang jauh dari
pemukiman warga. Hal ini di maksudkan agar supaya kotoran yang ditimbulkan oleh
kambing tidak menganggu warga masyarakat. Dianjurkan juga lokasi kandang
sebaiknya berada di tanah yang memiliki tanaman yang rimbun . Hal ini
dimaksudkan agar supaya angin yang bertiup tidak terlalu kencang. Angin yang
terlalu kencang dapat menyebabkan kambing sering kembung perut.
Luasan kandang sebaiknya disesuaikan dengan jumlah kambing
yang akan dipelihara. Standart luas kandang untuk seekor kambing adalah 1,5m
persegi, sehingga untuk memelihara kambing 10 ekor, dibutuhkan lahan seluas 15m
persegi. Pembuatan kandang di sarankan untuk melihat potensi pengembangan,
sehingga perlu di buat kandang yang lebih luas. Pembuatan kandang memang
membutuhkan biaya yang ekstra, tetapi manfaatnya akan lebih terasa pada masa
yang akan datang. Jika dipandang terlalu luas dengan jumlah kandang yang ada,
kandang bisa diberi sekat untuk pemisah sehingga gerak untuk kambing jadi
terbatas. Usahakan pembangunan kandang di indari dari tempat genangan air.
Desain dan konstruksi kandang tidak usah terlalu mewah,
tetapi cukup sederhana saja, apalagi kalau pemeliharaannya sekala kecil, di
bawah 5 ekor. Namun, apabila pemeliharaannya bersekala komersiil atau di atas
10 ekor, jelas diperlukan desain dan konstruksi khusus yang ideal di area yang
cukup luas. Ini disebabkan pemeliharaan kambing sekala komersial memerlukan
penangan yang lebih serius.
Kandang di usahakan berbentuk panggung, karena pada dasarnya
akan lebih mudah bagi peternak untuk melakukan pengawasan terhadap ternakan tu
sendiri. Dasar kandang di buat agak miring dengan kemiringan 60’. Dasar kandang
ini berada di bawah lantai karena kontrusi kandang di buat system pangggung.
Fungsinya agar limbah kotoran kambing dapat langsung mengalir ke parit atau bak
penampungan kambing yang disediakan di sekitar kandang. Tujuan utama pembagunan
dasar kandang yang miring adalah agar supaya tercipta kebersihan kandang.
Karena kandang yang bersih merupakan cara pencegahan penyakit pada ternak. Bila
nanti di lantai kolong kandang masih ada kotoran kambing sebaiknya setiap hari
kandang disapu atau dibersihkan agar supaya tidak muncul bau yang dapat
mengancam kesehatan ternak
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.
Perencanaan pembibitan merupakan salah
satu acuan yang cukup matang dalam menentukan untung ruginyanya dalam suatu
usaha. Tahap-tahap perencanaan pembibitan kambing yaitu: persiapan,
perencanaan, produksi dan evaluasi.
2.
Pengorganisasian adalah proses kegiatan
penyusunan struktur organisasi dalam penguatan pembibitan kambing oleh
sekelompok individu.
3.
Pelaksanaan pembibitan kambing dapat
dimulai dengan usaha betrnak, system pemeliharaan, pemeliharaan induk laktasi,
pemberian pakan dan penanganan kesehatan ternak.
4.
Pengawasan pembibitan kambing merupakan
pengawasan yang cukup serius dalam menjaga serangan binatang buas, menjaga
kesehatan ternak, dan menciptakan kondisi kandang yang teratur, dalam hal ini
ternak dapat beraktivitas dengan baik, terutama peternak lebih gampang dalam
melakukan pengawasan.
B. Saran
Makalah manajemen
perbibitan ternak adalah tugas yang dapat dikerjakan oleh keleompok
mahasiswa-mahasiswi yang dapat di berikan oleh dosennya harus tepat pada
waktunya. Terutama pada pembuatan makalah ini, baiknya dosen pengajar mata
kuliah manajemen perbibitan ternak harus lebih tegas dalam batas pengumpulan
makalah ini agar mahasiswa lebih efektif dan tepat dalam pengumpulan
makalahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar