Jumat, 25 November 2016

Manajemen Perencanaan, Pengorganosasian, Pelaksanaan, Dan Pengawasan Pembibitan Kambing PE (Peranakan Etawa



BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara tropis yang sumber keragaman alamnya sangat melimpah, salah satunya adalah sumber keragaman hewan yang cocok dibudidayakan di Negara Indonesia, terutama kambing merupakan salah satu komoditas ternak yang cukup potensial untuk dikembangkan. Ternak ini banyak dipelihara di pedesaan, karena telah diketahui kemampuannya beradaptasi dengan lingkungannya yang sederhana, miskin pakan, dan dapat lebih efisien dalam mengubah pakan yang berkualitas rendah menjadi air susu dan daging. Disamping itu kambing mempunyai kemampuan reproduksi relative tinggi dan tahan terhadap serangan penyakit.
Populasi ternak kambing dengan berbagai jenis Kambing PE ( peranakan ettawa ) pada umumnya masih relatife lebih kecil, Karena jumlah peternak yang memilih memelihara ternak kambing PE masih belum banyak. Disisi lain, masih sedikitnya peternak memelihara PE dikarenakan beberapa hal, antara lain : Bibit kambing etawa harganya relative lebih mahal, bibitnya sulit diperoleh dan terbatasnya populasi.
Ternak kambing khususnya kambing Peranakan Ettawa (PE), merupakan salah satu sumberdaya penghasil bahan makanan berupa daging dan susu yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi, dan penting artinya bagi masyarakat. Seiring hal tersebut peternakan kambing memiliki peluang yang cukup besar dengan semakin sadarnya masyarakat akan kebutuhan gizi yang perlu segera dipenuhi.
Peternakan kambing dalam perkembanganya tidaklah semudah yang kita bayangkan. Banyak hal yang menjadi masalah dalam perkembanganya, beberapa masalah tersebut adalah Pemeliharaan yang masih bersifat tradisional, Terbatasnya ketersediaan bakalan yang merupakan pengeluaran terbesar dalam suatu proses produksi, Keterbatasan fasilitas yang menimbulkan efek langsung pada proses produksi Manajemen pakan yang kurang baik.
B.  Tujuan dan Manfaat
Tujuan dalam pembuatan makalah perbibitan ternak  ini dalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui tahap perencanaan pembibitan kambing PE
2.      Untuk mengetahui metode pengorganisasian pembibitan kambing PE
3.      Untuk mengetahui metode pelaksanaan pembibitan kambing PE
4.      Untuk mengetahui metode pengawasan pembibitan kambing PE
Manfaat yang dapat dipetik dalam pembuatan makalah perbibitan ternak adalah sebagai berikut:
1.      Mahasiswa dapat memahami tahap perencanaan pembibitan kambing PE,
2.      Dapat memahami metode pengorganisasian pembibitan kambing PE,
3.      Dapat memahami metode pelaksanaan pembibitan kambing PE,
4.      Dapat memahami metode pengawasan pembibitan kambing PE.

C.  Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam pembuatan makalah perbibitan ternak adalah sebagai berikut:
1.      bagaimana  tahap perencanaan pembibitan kambing PE?
2.      bagaimana metode pengorganisasian pembibitan kambing PE?
3.      bagaimana metode pelaksanaan pembibitan kambing PE?
4.      bagaimana metode pengawasan pembibitan kambing PE?






BAB II
PEMBAHAASAN
A.  Tahap Perencanaan Pembibitan Kambing Peranakan Etawa (PE)
Dalam beberapa jenis usaha tentu harus memiliki acuan serta obsesi pada faktor keuntungan, tentu kita harus benar benar menganalisa serta mempertimbangkan banyak faktor serta kemungkinan yang mungkin akan kita temui sebagai tahapan maupun kendala dalam setiap usaha. Perencanaan beternak pun harus memiliki usaha yang cukup matang untuk memulai usaha di bidang ini, banyak sekali faktor yang menjadi pertimbangan dalam memiliki usaha peternakan kambing etawa namun setidaknya kita mulai dengan beberapa tahapan dari persiapan, pelaksanaan, produksi, hingga evaluasi.
Setiap usaha peternakan haruslah berorientasi pada keuntungan agar usaha tersebut bisa berkesinambungan dan tidak terhenti ditengah jalan. Karenanya, dibutuhkan perencanaan yang sangat matang dengan mempertimbangkan beberapa aspek. Pada dasarnya ada empat kegiatan yang harus dilakukan oleh peternak dalam membuat usaha peternakan.

a.    Tahap Persiapan
Kegiatan persiapan meliputi penentuan lokasi dan pengurusan perijinan terutama jika skala usaha relative besar. Lokasi memegang peranan besar, karena seluruh usaha kegiatan peternakan dipusatkan disini. Kondisi iklim, seperti suhu lingkungan, curah hujan, arah mata angina, dan kelembaban, yang menunjang usaha peternakan kambing harus diperhatikan agar hasil yang diperoleh dapat maksimal. Selain itu, kondisi keamanan lingkungan serta daya dukung lingkungan terhadap usaha peternakan kambing, misalnya ketersediaan tenaga kerja (SDM) maupun bibit kandang, perlu diperhatikan secara matang.
Perijinan dibutuhkan jika usaha yang akan dibangun bersekala besar. Untuk usaha yang bersekala kecil, agar tidak menimbulkan persoalan dikemudian hari, sebaiknya meminta ijin dari warga sekitar yang berada di sekitar kandang ternak. Sebuah survey untuk mengetahui daya serap pasar juga peru dilakukan agar hasil produksi bisa terjual. Perlu juga diperhatikan banyaknya pesaing dengan jenis usaha yang sama, karena jika hasil usaha yang tinggi dan daya serap pasar rendah, maka harga produk bisa menurun tajam.

b.    Tahap Pelaksanaan
Pada intinya tahap pelaksanaan merupakan tahapan konstruksi, yaitu melakukan pembangunan kandang, menyiapkan lahan untuk ditanami hijauan pakan ternak, serta mempersiapkan berbagai peralatan kandang. Pembangnan kandang beserta persiapan infrastrukturnya harus disesuaikan dengan jumlah kambing yang akan dipelihara degan tetap mempertimbangkan kemungkinan perkembangan usaha. Tujuannya adalah untuk efisiensi penggunaan modal.
Hijauan merupakan unsure penting yang harus disiapkan karena kebutuhan kambing akan hijauan tidak bisa di tunda. Sebelum usaha peternakan di mulai, sebaiknya sudah dilakukan penanaman tanaman hijauan, sehinggan ketersediaannya akan terjamin. Perlu pula diketahui sumber-sumber bahan pakan local untuk digunakan ssebagai bahan baku pembuatan kosentrat. Hal ini dilakukan untuk menekan biaya.

c.    Tahap Produksi
Setelah tahapan konstruksi, tahapan produksi sudah bisa dilaksanakan, yaitu dengan melakukan pembelian kambing, pengeloalaan tanaman hijauan, penggeloaan produksi hingga pasca panen, dan penjualan produk.

d.   Tahap Evaluasi
Sebuah perencanaan usaha yang baik harus mencakup sebuah target yang akan dicapai dari usaha tersebut. Tujuanya adalah untuk mempermudah peternak dalam evaluasi, sampai sejauh mana target yang direncanakan sudah tercapai, mencari berbagai penyebab jika target tidak tercapai, serta melakukan perbaikan agar target bisa tercapai dan ditingkatkan. Target bisa dibuat dalam jangka pendek (1 tahun), jangka menengah (2-5 tahun), dan jangka panjang (di atas 5 tahun). Target biasanya dibuat dengan parameter ekonomi yang dituangkan dalam sebuah analisis usaha.
Setiap pelaksanaan semua usaha atau anggaplah sebuah project tentu kita harus mempersiapkan banyak hal ,untuk memulai kegiatan beternak kambing etawa kita haruslah mempersiapkan lokasi yang akan kita gunakan sebagai tempat untuk beternak kambing etawa. Dalam menentukan lokasi kitapun tidak boleh gegabah mengingat kondisi keamanan, cuaca, suhu udara serta faktor kelembapan juga di butuhkan pengamatan yang cukup serius.
Faktor lain yang tak kalah pentingnya adalah keberadaan lokasi beternak yang berlokasi di pemukiman sebaiknya di hindari sebab dalam jumlah ternak yang banyak tentu akan menimbulkan polusi maupun beberapa penyakit. Selain Faktor Lokasi  beternak kita juga harus membekali persiapan pengetahuan yang cukup mengenai seluk beluk beternak kambing etawa. Pada tahap berikutnya adalah pembangunan kandang sedangakan untuk pembangunan kandang yang terpenting adalah melilihat secara utuh fungsi kandang sebagaimana saya tuliskan dalam kandang kambing etawa ,sedangkan untuk ukuran pembangunan kandang tentu harus mempertimbangkan berapa jumlah kambing yang akan kita pelihara. Setelah pembuatan kandang tentu kita juga harus mempersiapkan ketersediaan pakan ternak ,lahan pakan ternak juga harus kita persiapkan dengan menanam beberapa hijauan makanan ternak ,sedangkan jenis makanan ternak anda boleh melihat pada tulisan saya tentang hijauan makan ternak.
Setelah tahapan kita memiliki lokasi untuk kandang dan memiliki lahan pakan ternak yang sudah di perhitungkan untuk jumlah yang cukup memenuhi kebutuhan kambing etawa barulah kita memulai pembelian bibit kambing etawa, yang kemudian kita lanjutkan dengan memelihara kambing etawa serta merawat lahan pakan ternak.
Setelah tahapan tahapan itu kita lalui kemudian mulailah mempelajari serta membuat analisa laba rugi yang bisa kita buat dalam beberapa hitungan dengan jumlah kecil dengan waktu yang pendek ,atau jumlah menengah dengan waktu yang agak panjang,kemudian kita akan dapat memperhitungkan dengan baik kelayakan usaha yang kita buat tersebut.
Kambing Peranakan Etawa ini memiliki ciri khas pada bentuk mukanya yang cembung, bertelinga panjang-mengglambir, postur tubuh tinggi (gumla) antara 90-110 cm, bertanduk pendek dan ramping. Kambing jenis ini mudah berkembang dengan baik di daerah berhawa dingin, seperti daerah sekitar pegunungan atau dataran tinggi . Kambing jenis ini memiliki badan besar warna bulu beragam, belang putih, merah coklat, bercal, bercak hitam atau kombinasi ketiganya dan pada bagian belakang terdapat bulu yang lebat dan panjang. Panggemar kambing Peranakan Etawa umumnya sangat menyukai keindahan bulu dan bentuk mukanya.

B.   Metode Pengorganisasian Pembibitan Kambing Peranakan Etawa (PE)
Pengorganisasian adalah merupakan fungsi kedua dalam Manajemen. Organisasi identik dengan sekelompok Individu yang terstruktur dan sistematis yang berada dalam sebuah sistem. pengorganisasian didefinisikan sebagai proses kegiatan penyusunan struktur organisasi sesuai dengan tujuan-tujuan, sumber-sumber, dan lingkungannya. Kegiatan Penguatan Pembibitan Kambing peranakan etawa PE dilaksanakan secara terkoordinasi mulai dari tingkat Pusat sampai dengan tingkat lapangan. Oleh karena itu dalam upaya mengoptimalkan pelaksanaannya diperlukan pengaturan organisasi untuk memperjelas tugas dan fungsi dari setiap lini kelembagaan, sebagai berikut :
1.     Tim Pusat Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan
Dalam pelaksanaan kegiatan Penguatan Pembibitan Kambing Terpilih, Tim Pusat Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, mempunyai kewajiban sebagai berikut :
a.       Menyusun Pedoman Penguatan Pembibitan Kambing di Provinsi Terpilih.
b.      Mengkoordinasikan kegiatan di tingkat Pusat dan daerah.
c.       Melakukan sosialisasi dan pembinaan kegiatan.
d.      Melakukan monitoring dan evaluasi.
e.       Menyusun dan menyampaikan laporan perkembangan pelaksanaan kegiatan kepada Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.
2.    Tim Pembina Provinsi
a.       Menyusun petunjuk pelaksanaan dengan mengacu kepada pedoman pelaksanaan dan disesuaikan dengan kondisi spesifik masing-masing daerah yang ditetapkan oleh kepala dinas provinsi.
b.      Melakukan verifikasi terhadap calon kelompok terpilih.
c.       Menetapkan kelompok peternak penerima kegiatan penguatan pembibitan kambing.
d.      Mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan dengan instansi terkait di tingkat Pusat, provinsi dan kabupaten.
e.       Melakukan sosialisasi dan pembinaan kegiatan serta penanganan masalah di tingkat provinsi.
f.       Melaksanakan pembinaan, monitoring dan evaluasi serta penanganan masalah di tingkat provinsi.
g.      Menyusun dan melaporkan perkembangan pelaksanaan kegiatan untuk disampaikan kepada kepala dinas provinsi dan kemudian diteruskan kepada Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.
3. Tim Teknis Kabupaten.
Dalam pelaksanaan kegiatan, tim teknis kabupaten, mempunyai kewajiban sebagai berikut :
a.       Menyusun petunjuk teknis kegiatan dengan mengacu kepada petunjuk pelaksanaan dan disesuaikan dengan kondisi spesifik daerah yang ditetapkan oleh dinas kabupaten.
b.       Mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan dengan instansi terkait di tingkat kabupaten.
c.       Mengusulkan kelompok peternak calon penerima kepada Kepala dinas provinsi untuk ditetapkan sebagai kelompok peternak penerima.
d.      Melakukan sosialisasi dan pembinaan kegiatan di tingkat kabupaten.
e.       Melakukan seleksi calon penerima dan calon lokasi kelompok (CP/CL).
f.       Melakukan pendampingan pelaksanaan kegiatan.
g.      Melakukan monitoring dan evaluasi.
h.      Membuat laporan perkembangan pelaksanaan kegiatan di tingkat kabupaten untuk disampaikan kepada Kepala Dinas Kabupaten yang kemudian diteruskan kepada Kepala Dinas Provinsi.
4. Kelompok Penguatan Pembibitan.
Kelompok penguatan pembibitan mempunyai kewajiban sebagai berikut :
a.       Melakukan pemeliharaan ternak dengan baik dan menerapkan prinsip-prinsip pembibitan antara lain melakukan pencatatan/rekording individu ternak (silsilah, penimbangan, pengukuran, perkawinan,dll) dan seleksi.
b.      Melakukan perkawinan ternak dengan pejantan/semen beku unggul yang serumpun.
c.       Mengikuti bimbingan dan pembinaan dari Tim Pembina/Tim Teknis.
d.      Bersedia mengikuti kegiatan pembibitan lainnya (manajemen pembibitan terpadu, dll).
e.       Semua aset yang sudah dilimpahkan ke kelompok merupakan tanggungjawab kelompok.
f.       Melaporkan perkembangan kegiatan setiap tiga bulan sekali kepada dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan.



5. Petugas Rekorder Dinas dan Kelompok.
a.       Melakukan kegiatan pengukuran dan penimbangan performan anak dan individu calon bibit kambing/domba dengan menggunakan sarana rekording (timbangan ternak, tongkat ukur dan pita ukur).
b.      Melakukan pencatatan kartu ternak dan penghitungan atas hasil pengukuran dan penimbangan performan anak dan individu calon bibit kambing/domba yang dilakukan oleh petugas rekorder dinas dan kelompok.
c.       Melaporkan hasil rekapitulasi perkembangan kegiatan pembibitan dan penghitungan untuk disampaikan kepada Kepala Dinas Kabupaten yang kemudian diteruskan kepada Kepala Dinas Provinsi.

C.  Metode Pelaksanaan Pembibitan Kambing Peranakan Etawa (PE)
Pelaksanaan pembibitan kambing peranakan etawa (PE) dapat diawali dengan cara sebagai berikut:

1.    Usaha beternak kambing
Kambing banyak dipelihara oleh penduduk pedesaan Indonesia (Mulyono, 2003), karena pemeliharaannya lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan ternak ruminansia besar. Kambing cepat berkembang biak dan pertumbuhan anaknya juga tergolong cepat. Menurut Sarwono (1999), nilai ekonomis, social, dan budaya beternak kambing sangat nyata, karena peningkatan pendapatan keluarga bisa mencapai 14-25 % dari total pendapatan keluarga, semakin rendah perluasan lahan pertanian dan nilai sumber daya yang diusahakan dari beternak kambing.
Menurut Sarwono (1999), bila tata laksana pemeliharaan ternak kambing yang sedang bunting atau menyusui serta anaknya baik, maka bobot anak kambing bisa mencapai 10-14 kg/ekor ketika disapih pada umur 90-120 hari. Williamson dan payne (1993) menyatakan untuk kambing pedaging ada kecendrungan menunda penyapihan untuk memberikan kesempatan anak kambing memperoleh keuntungan yang maksimal dari susu induknya. Sedangkan untuk kambing perah, penyapihan harus dilakukan lebih awal, tanpa mengganggu pertumbuhan anaknya, agar kelebihan produksi induk dapat dimanfaatkan oleh peternak untuk meningkatkan pendapatan atau keperluan gizi keluarga (Asih, 2004).

2.    Sistem Pemeliharaan Ternak Kambing PE
Menurut Williamson dan Payne (1993), sistem pemeliharaan secara ekstensif umumnya dilakukan di daerah yang padang pengembalaannya luas, kondisi iklim yang menguntungkan, dan untuk daya tampung kira-kira tiga sampai dua belas ekor kambing per hektar. Sistem pemeliharaan secara ekstensif, induk yang sedang bunting dan anak-anak kambing yang belum disapih harus diberi persediaan pakan yang memadai (Devendra dan Burns, 1994). Rata-rata pertambahan bobot badan kambing yang dipelihara secara ekstensif dapat mencapai 20-30 gram per hari (Mulyono 2003). Menurut Sarwono (1999), bila tata laksana pemeliharaan ternak kambing yang sedang bunting atau menyusui serta anaknya baik, maka bobot anak kambing bisa mencapai 10-14 kg/ekor ketika disapih pada umur 90-120 hari.
Sistem pemeliharaan secara intensif memerlukan pengandangan terus menerus atau tanpa pengembalaan dan lebih terkontrol (Williamson dan Payne 1993). Kambing jantan dan betina dipisahkan begitu juga betina muda dari umur tiga bulan sampai cukup umur untuk dikembang biakkan. Kambing pejantan harus dipisahkan dengan yang betina (Devendra dan Burns, 1994). Pertambahan bobot badan pada sistem pemeliharaan intensif ini bisa mencapai 100-150 gram per hari dengan rata-rata 120 gram perhari (Sarwono, 1999).
Sistem pemelihraan semi intensif merupakan gabungan dari ekstensif dan intensif yaitu dengan pengembalaan terkontrol dan pemberian konsentrat tambahan (Williamson dan Payne 1993). Pertambahan bobot badan sistem ini bisa mencapai 30-50 gram per hari.


3.    Pemeliharaan Induk Kambing Laktasi
Pemliharaan induk kambing laktasi dapat dilakukan dengan beberapa cara untuk memenuhi kebutuhan susu anaknya dan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tubuhnya yaitu dengan melakukan penanganan pada waktu melahirkan, kemudian memperhatikan pakan dan air minum  yang diberikan dan juga sanitasi (kebersihan) kandang supaya terhindar dari sumber-sumber penyakit yang bisa mengurangi produktifitas induk kambing  laktasi tersebut (Anonim, 2009).

4.    Pemberian pakan pada induk kambing PE
Sarwono (1999) menyatakan, kambing membutuhkan jenis hijauan yang beragam. Kambing sangat menyukai daun-daunan dan hijauan selain itu kambing juga memerlukan pakan penguat untuk mencukupi kebutuhan gizinya. Pakan penguat bisa berupa dedak, bekatul padi, jagung atau ampas tahu dan dapat juga campurannya. Sodiq (2002) menjelaskan, kambing tergolong hewan herbivore atau hewan pemakan tumbuhan. Kebutuhan ternak ruminansia terhadap pakan, tergantung dari jenis ternaknya, umur ternak, fase (pertumbuhan, dewasa, bunting atau menyusui), kondisi tubuh dan lingkungan tempatnya hidup.
Pakan sangat dibutuhkan kambing untuk tumbuh dan berkembang biak (Sarwono, 1991). Pakan yang sempurna mengandung gizi seperti protein, karbohidrat lemak, vitamin dan mineral yang seimbang (Mulyono, 2003). Pemberian pakan yang efisien mempunyai pengaruh lebih besar dari pada faktor-faktor yang lainnya, dan merupakan cara yang sangat penting untuk peningkatan produktivitas (Devendra dan Burns, 1994).

5.    Penanganan kesehatan induk kambing PE
Ternak kambing merupakan ternak yang umumnya dipelihara di pedesaan, sehingga banyak ditemukan penyakit-penyakit seperti scabies (kudis), belatungan (myasis), cacingan dan keracunan tanaman. Pengobatan yang biasa diberikan di pedesaan yaitu pengobatan tradisional, meskipun banyak obat-obatan terjual di toko. Namun demikian usaha pencegahan perlu dilakukan dengan menjaga kebersihan ternak dan lingkungannya, pemberian pakan yang cukup (kualitas dan kuantitas), bersih dan tidak beracun (Anonim, 2009).
Menurut Muljana (2001), Pengobatan ternak kambing khususnya penyakit scabies bisa menggunakan obat seperti Asuntol, Tiguvon, Neguvon, Termadex, Benzyl Benzonate dan bisa dilakukan dengan cara menempatkan ternak ditempat yang hangat dan pakan bergizi tinggi, rambut kambing dicukur dan dimandikan serta bisa juga menggunakan obat-obatan seperti serbuk belerang dicampur kunyit dan binyak kelapa yang dipanasi, kemudian dioleskan.
Penyakit belatung disebabkan oleh luka yang berdarah dan infeksi kemudian dihinggap lalat sehingga tumbuh larva belatung. Pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan Gusanex dan obat anti biotik lainnya, atau bisa dilakukan dengan cara membersihkan luka kemudian obati dengan gerusan kamper/kapur barus kemudian luka ditutup dengan perban dan diulangi pada hari selanjutnya (Anonim, 2009).
Simon (2009) menjelaskan, Parasit pada sluran pencernaan kambing dapat mengganggu kesehatan dan menurunkan produktivitas atau menyebabkan kematian pada kasus akut. Penyakit ini bisa disebabkan oleh pakan hijauan yang telah terinfeksi larva parasit. Ciri penyakit ini adalah kepucatan pada lingkar putih mata, dibagian dalam mulut, rectum dan vagina serta kadang-kadang disertai mencret. Pengobatan penyakit ini bisa dilakukan dengan memberikan anti parasit setiap 2-3 bulan sekali. Jenis anti parasit yang diberikan sebaiknya rotasi setiap tahun untuk mencegah timbulnya resistensi terhadap anti parasit yang diberikan.






D.  Metode Pengawasan Pembibitan Kambing Peranakan Etawa (PE)
Dalam usaha peternakan kambing peranakan etawa, terlebih lagi jika pemeliharaan dengan jumlah besar, kambing memerlukan perhatiaan atau pengawasan yang cukup serius, sehingga perlu ditempatkan dalam sebuah kadang. Membangun kandang untuk kambing etawa seperti membangun rumah untuk tempat tinggal manusia, sehingga secara hakekat normative harus sama. Pembangunan kandang memerlukan keterampilan dan keseriusan. Tujuannya adalah untuk menciptakan desain kandang yang sempurna bagi kambing yang akan dipelihara agar benar-benar menjadi home sweet home bagi kambing itu sendiri. Prinsipnya adalah konstruksi kandang harus dapat membuat kambing merasa nyaman dan aman. Dalam hal ini kandang memiliki fungsi sebagai berikut ini:
1.    Kandang harus dapat melindungi kambing dari hewan-hewan pemangsa maupun hewan penganggu.
2.    Kandang harus dapat mempermudah kambing dalam melakukan aktifitas keseharian kambing seperti makan, minum, tidur, kencing, atau buang kotoran.
3.    Kandang dapat mempermudah peternak dalam melakukan pengawasan dan menjaga kesehatan ternak.
4.    Sebagai tindakan preventif agar supaya kambing tidak merusak tanaman dan fasilitas lain yang berada di sekitar lokasi kandang, serta menghindari terkonsumsinya pakan yang berbahaya bagi kesehatan kambing.

Kandang di usahakan di bangun dilokasi yang jauh dari pemukiman warga. Hal ini di maksudkan agar supaya kotoran yang ditimbulkan oleh kambing tidak menganggu warga masyarakat. Dianjurkan juga lokasi kandang sebaiknya berada di tanah yang memiliki tanaman yang rimbun . Hal ini dimaksudkan agar supaya angin yang bertiup tidak terlalu kencang. Angin yang terlalu kencang dapat menyebabkan kambing sering kembung perut.
Luasan kandang sebaiknya disesuaikan dengan jumlah kambing yang akan dipelihara. Standart luas kandang untuk seekor kambing adalah 1,5m persegi, sehingga untuk memelihara kambing 10 ekor, dibutuhkan lahan seluas 15m persegi. Pembuatan kandang di sarankan untuk melihat potensi pengembangan, sehingga perlu di buat kandang yang lebih luas. Pembuatan kandang memang membutuhkan biaya yang ekstra, tetapi manfaatnya akan lebih terasa pada masa yang akan datang. Jika dipandang terlalu luas dengan jumlah kandang yang ada, kandang bisa diberi sekat untuk pemisah sehingga gerak untuk kambing jadi terbatas. Usahakan pembangunan kandang di indari dari tempat genangan air.
Desain dan konstruksi kandang tidak usah terlalu mewah, tetapi cukup sederhana saja, apalagi kalau pemeliharaannya sekala kecil, di bawah 5 ekor. Namun, apabila pemeliharaannya bersekala komersiil atau di atas 10 ekor, jelas diperlukan desain dan konstruksi khusus yang ideal di area yang cukup luas. Ini disebabkan pemeliharaan kambing sekala komersial memerlukan penangan yang lebih serius.
Kandang di usahakan berbentuk panggung, karena pada dasarnya akan lebih mudah bagi peternak untuk melakukan pengawasan terhadap ternakan tu sendiri. Dasar kandang di buat agak miring dengan kemiringan 60’. Dasar kandang ini berada di bawah lantai karena kontrusi kandang di buat system pangggung. Fungsinya agar limbah kotoran kambing dapat langsung mengalir ke parit atau bak penampungan kambing yang disediakan di sekitar kandang. Tujuan utama pembagunan dasar kandang yang miring adalah agar supaya tercipta kebersihan kandang. Karena kandang yang bersih merupakan cara pencegahan penyakit pada ternak. Bila nanti di lantai kolong kandang masih ada kotoran kambing sebaiknya setiap hari kandang disapu atau dibersihkan agar supaya tidak muncul bau yang dapat mengancam kesehatan ternak




BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
1.      Perencanaan pembibitan merupakan salah satu acuan yang cukup matang dalam menentukan untung ruginyanya dalam suatu usaha. Tahap-tahap perencanaan pembibitan kambing yaitu: persiapan, perencanaan, produksi dan evaluasi.
2.      Pengorganisasian adalah proses kegiatan penyusunan struktur organisasi dalam penguatan pembibitan kambing oleh sekelompok individu.
3.      Pelaksanaan pembibitan kambing dapat dimulai dengan usaha betrnak, system pemeliharaan, pemeliharaan induk laktasi, pemberian pakan dan penanganan kesehatan ternak.
4.      Pengawasan pembibitan kambing merupakan pengawasan yang cukup serius dalam menjaga serangan binatang buas, menjaga kesehatan ternak, dan menciptakan kondisi kandang yang teratur, dalam hal ini ternak dapat beraktivitas dengan baik, terutama peternak lebih gampang dalam melakukan pengawasan.

B.  Saran
Makalah manajemen perbibitan ternak adalah tugas yang dapat dikerjakan oleh keleompok mahasiswa-mahasiswi yang dapat di berikan oleh dosennya harus tepat pada waktunya. Terutama pada pembuatan makalah ini, baiknya dosen pengajar mata kuliah manajemen perbibitan ternak harus lebih tegas dalam batas pengumpulan makalah ini agar mahasiswa lebih efektif dan tepat dalam pengumpulan makalahnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar